SERUNYA OUTING OUTBOUND DI BENDUNGAN CIRATA

“Asyiiik, mau nyebur, dong!” teriak anak-anak di atas perahu karet setelah mengayuh dayung sampai ke tengah bendungan sedalam 200 meter itu. Dilengkapi dengan life-jacket, anak-anak pun meloncat dari perahu dan menceburkan diri ke air yang berwarna kehijauan. Teriak riang bercampur dengan teriakan takut dari anak-anak yang berusaha mengatasi ketakutannya. Tak mau kalah dengan anak-anak, sebagian ibu-ibu yang mengantarkan anaknya pun ikut terjun menceburkan diri dan berteriak-teriak seolah kembali jadi anak-anak.

Pemandangan itu terjadi saat SAB melaksanakan Outing Outbound di Bendungan Cirata, tanggal 31 Mei yang lalu. Kegiatan rutin ini dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan Outbound seperti yang telah ditetapkan. Anak-anak, orang tua pendamping, dan tentu saja guru berangkat dari pelataran parkir Dago Tea House pukul 6.45 pagi. Dengan menggunakan 4 truk tentara milik Pussenif dan kendaraan pribadi orang tua, rombongan berkonvoi dari Bandung menuju Waduk Cirata.

Sebelumnya anak-anak dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing diawasi guru dan orang tua pendamping. Nama kelompoknya pun disesuaikan dengan temanya, mulai dari Bintang Laut, Paus Biru, Kuda Laut, dan lain-lain.

 

Setelah menghabiskan 1,5 jam perjalanan, rombongan pun sampailah di Waduk Cirata. Setelah beristirahat sejenak dan makan snack yang dibagikan, anak-anak melakukan pemanasan untuk persiapan kegiatan inti. Pemanasan ini dipimpin oleh guru.

Foto: Pemanasan

 

Kemudian kelompok anak-anak dikumpulkan menjadi dua shift. Shift pertama langsung mengikuti acara mendayung perahu karet, sedangkan Shift Kedua mengikuti pengamatan ekologi.

Foto: Pengamatan

Pada acara Shift kedua yang saya ikuti, anak-anak dibawa ke dekat bangunan bendungan. Bangunan bendungan ini berdiri tegak di antara dua bukit yang menjadi dinding alam bendungan Cirata. Di sini anak-anak bereksplorasi dan mencatat benda-benda apapun yang mereka lihat di sekitarnya. Setelah itu mereka dibawa kembali ke base dan melakukan pengamatan ekologi. Anak-anak disini ditugaskan untuk mencatat ciri-ciri tumbuhan yang mereka pilih secara berkelompok.

Setelah itu, Bu Sri dari Divisi Art mengajak anak-anak Shift kedua ini menuangkan apa yang mereka lihat ke dalam gambar bebas. Diiring lantunan lagu dengan syair ciptaan anak-anak yang dinyanyikan Pak Isa (Pak Guru Seni Musik), anak-anak pun menggambar dengan imajinatifnya, seperti munculnya helikopter di atas bendungan, walaupun tak pernah ada helikopter melintas di bendungan itu.

 

Rafting sesi pertama Pada sessi pertama, anak-anak secara berkelompok naik perahu karet didampingi guru dan instruktur FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia), tempat SAB menyewa perahu karet. Di sesi ini, anak-anak belajar kekompakan dengan mendayung bersama-sama berdasar aba-aba, sehingga laju perahu karet bisa kencang. Mereka berdayung memutari bendungan. Yang hebat dari anak-anak adalah keberanian mereka untuk langsung mencoba dan berhamburan ke perahu, mungkin berbeda dengan kita sebagian orang tua yang secara tak sadar diserang rasa takut bila disuruh mencoba.Ketika menuju kembali ke tempat pendaratan, anak-anak dengan semangat berlomba untuk sampai paling dulu. Terpancar wajah senang dengan mata berbinar ketika naik kembali ke darat. Sebagian bahkan kepingin untuk masuk ke perahu lagi. Tetapi karena sudah masuk waktu makan siang dan sholat, maka semuanya pun naik ke base.

Foto: Persiapan, Siap-siap Naik Perahu, Dayuuuung!

Rafting sesi kedua Pada sesi dua ini acara menjadi lebih seru, karena ada simulasi dan latihan membalikkan perahu dan naik ke perahu setelah mengapung-apung di air. Sesi ini dipimpin Pak Laury, dibantu Pak Eko, Ganjar, dan tim pendamping dari FAJI. Kelompok pertama yang dipilih adalah kelompok anak-anak yang sudah bisa berenang di kelas empat dan lima.

Pada sesi dua ini acara menjadi lebih seru, karena ada simulasi dan latihan membalikkan perahu dan naik ke perahu setelah mengapung-apung di air. Sesi ini dipimpin Pak Laury, dibantu Pak Eko, Ganjar, dan tim pendamping dari FAJI. Kelompok pertama yang dipilih adalah kelompok anak-anak yang sudah bisa berenang di kelas empat dan lima.

Pertama-tama anak-anak diminta meloncat dari perahu dan mencebur ke air. Terlihat keragu-raguan di wajah anak-anak saat pertama kalinya. Ada yang masuk ke air dengan pelan-pelan, ada yang tidak mau, tapi ada pula yang langsung mencebur. Begitu semuanya sudah masuk ke air, lenyap sudah keragu-raguan mereka dan digantikan dengan teriak excitement sambil berenang kesana-kemari di sekitar perahu.

Kemudian anak-anak diajari naik ke perahu yang terbalik dan membaliknya dengan cara menarik tali perahu itu dengan berat badan tubuh ke samping sampai terbalik. Ada pula anak-anak yang disuruh berpegangan di samping perahu yang terbalik, sehingga begitu perahu ditarik dan anak-anak itu langsung masuk ke badan perahu.

Setelah naik, anak-anak diajari juga untuk membantu temannya naik kembali ke perahu dengan teknik yang benar. Disini anak-anak belajar bekerja sama, karena untuk menarik satu anak, harus ada anak yang menarik dari atas perahu dan ada anak yang berada di air yang mendorong dari bawah.

Setelah itu susul-menyusul kelompok-kelompok lain mencebur dan membalikkan perahu. Tak mau ketinggalan anak-anak kelas tiga, dua, dan satu. Semuanya tak mau ketinggalan nyebur dan merasakan berenang-renang di tengah waduk itu. Yang menarik, ada anak yang begitu mencebur terus teriak-teriak ketakutan. Tetapi begitu ditenangkan dan diajari caranya, anak inipun bisa santai dan bahkan menikmatinya.

Melihat semua itu, sebagian ibu-ibu yang mendapatkan kesempatan berperahu akhirnya terjun juga menceburkan diri ke air danau yang kehijauan itu. Mereka tak melewatkan kesempatan untuk dapat berenang-renang di waduk seperti anak-anak mereka. Tawa riang dan teriakan gembira pun lepas terdengar dari ibu-ibu yang basah kuyup itu. Tak kurang ada 7 ibu. Bahkan saking ingin menikmatinya, Ibu Wiwid (ortu Kiki kelas 2) terus-terusan mengapung dan bergelayutan di perahu ortu dari tengah sampai ke pinggir waduk. Padahal dia sama sekali tidak bisa berenang! Katanya setelah di darat, outing yang lalu dia sudah berperahu, masa sekarang tidak ‘naik kelas,’ dengan menceburkan diri ke air!

Sesi ini ditutup dengan latihan membalikkan perahu oleh calon-calon guru baru SAB. Bersama guru-guru senior, mereka dibawa ke tengah waduk dan berbasah kuyup seperti anak-anak belajar membalikkan perahu. Orang tua yang ikut dalam sesi inipun mau tidak mau ikutan berbasah ria. Padahal tadinya Cuma mau berdayung-dayung saja karena tidak bawa baju ganti. Kata orang Jawa, opo tumon!

Menjelang sore, terpaksa acara outing outbound ini harus diakhiri. Inipun harus dengan terpaksa harus melarang anak-anak yang sudah ketagihan dan pengin berperahu dan nyebur lagi ke waduk. Memang anak-anak yang nggak kenal capek!

Dengan berkonvoi kembali, perjalanan pulang kembali menyusuri liku-liku jalan pegunungan sampai Bandung. Terpancar kepuasan dan rasa senang dari wajah-wajah anak-anak. (Kalau disuruh menginap dengan janji besok berperahu lagi pun, pasti anak-anak itu mau!) Setelah Maghrib, sampailah konvoi di pelataran parkir Dago Tea House Bandung. Hujan gerimis menyambut anak-anak yang telah mengantungi dan membawa pulang pengalaman tak terlupakan itu. Semoga menjadi bekal bagi masa depan mereka!


21-Mar-2013 by admin


Unduh Formulir Lamaran Di Sini Email 1 : hrd.sekolahalambandung@gm... Selanjutnya



Sekolah Alam Bandung mulai tahun ajaran 2016 - 2017akan membuka jenj... Selanjutnya



Sekolah Alam Bandungby Yuria Pratiwhi Cleopatra on Saturday, 28 Nov... Selanjutnya