Lebih Sehat dan Lebih Bahagia di Sekolah Alam Bandung

siswa SAB sedang membakar jagung untuk makan malamnya di kemah sekolah

bandung.bisnis.com Sekilas, tempat ini seperti tempat peristirahatan, tempat melepas lelah dari kebisingan kota. Namun dalam waktu tertentu, jangan harapkan ada kesunyian di tempat ini.

Anak-anak berlarian, bermain dengan riang di sekitaran saung, lapang tanah, dan ruas-ruas jalan setapak beralas batu dan beranak tangga. Di enam saung yang masing-masing bertingkat dua tersebut, kegaduhan khas anak-anak menghiasi kesejukan alam yang astri.

Bukan kesan bising yang muncul dari tempat ini, melainkan suasana segar dari alamnya yang terpelihara dan ceria dari anak-anak yang gembira. Saat pertama kali datang ke tempat ini, mungkin Anda tidak akan percaya bahwa tempat ini adalah sekolah, institusi tempat menimba ilmu, tempat membentuk mental dan kepribadian.

Sekolah bernama “Sekolah Alam Bandung” (SAB) ini lebih nampak bak arena bermain anak di alam terbuka hijau. Murid-murid di sini tak berseragam layaknya anak sekolah formal yang biasa dijumpai. Meski muridnya banyak bermain, sekolah ini tidak main-main. Ada jenjang pendidikan sebagaimana sekolah formal, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Lanjutan (SL) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ditemui ketika masa istirahat, sekumpulan anak sedang menghafal bacaan sholat di taman dekat sebuah kolam. Secara bersama-sama mereka melantangkan bacaan sholat bagian tahiyat akhir (gerakan duduk sebelum salam pada sholat) tanpa melihat buku yang digenggam di tangan. Mereka bernama Cikal (8 tahun), Aldin (9), dan Salma (9). Mereka adalah murid SD kelas tiga.

“Sekarang mau ujian praktek. Nanti kalau sudah masuk, kami bakal dites satu-satu,” ujar Cikal tanpa rasa gugup ketika ditanya tentang maksud mereka menghapal bacaan sholat tersebut.

Cikal yang bernama lengkap Cikal Gumiwang Nagari adalah murid yang sejak TK bersekolah di Sekolah Alam Bandung. Dia mengaku betah dan senang bersekolah di SAB. Dia pun ingin melanjutkan SMP di sekolah ini. Sedangkan Anugerah Aldin Alfadilah dan Nisrina Salma adalah siswa pindahan yang sebelumnya besekolah di sekolah formal.

“Dulu waktu kelas satu, sekolah di sini. Kelas duanya pindah sekolah. Terus kelas tiga pindah lagi ke sini,” kata Aldin. Ditanya kenapa dia sampai pindah lagi ke SAB, Aldin hanya menjawab, “Seneng aja sekolah di sini.” Salma pun tak jauh berbeda dengan Aldin. Membandingkan dengan sekolah sebelumnya, Salma mengaku lebih senang bersekolah di SAB.

Beberapa saat berkeliling, seorang anak menghampiri dan menawarkan pisang goreng. Anak ini bernama Muhammad Iqbal murid kelas empat yang sedang ujian praktek pelajaran wirausaha. Dia menawarkan dagangan ke teman-temannya, adik kelas ataupun kakak kelasnya, dan ke guru-guru yang ada di sana. Pisang goreng yang dia jual, dibawanya dari rumah.

“Tadi dari pagi jualan sebelas pisang, sekarang tinggal sisa dua. Bapak mau beli?” tawarnya tanpa kikuk kepada bisnis saat masa istirahat pada jelang siang.

Dalam satu hari hanya ada sekitar dua-tiga pelajaran untuk SD. Murid-murid lebih banyak mengeksplorasi alam karena mereka begitu dekat dengan itu dan secara khusus ada aktivitas outbond, bercocok tanam, dan sebagainya. Para pengajar pun mengarahkan murid-murid untuk mengeksplorasi diri dengan pelajaran seperti story telling, wirausaha, dan pelajaran lainnya yang membentuk mental dan kepribadian, serta menumbuhkan interaksi sosial dengan sesama teman kelas, adik kelas, atau kakak kelasnya.

Metode pembelajaran semacam itu sempat dipertanyakan dan bahkan tak dianggap oleh dinas terkait saat SAB ini baru dirintis lima lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2001. Tanpa miliki latar kependidikan, hanya berbekal pengalaman di lembaga kerohanian dan pendidikan seperti Kharisma ITB dan Yayasan Salman ITB, lima orang ini menawarkan suatu gagasan konkret atas pendidikan.

Salah satu pendiri SAB yang saat ini masih aktif terjun di sekolah dan menjabat sebagai Direktur Pengembangan Sekolah Alam Bandung Eko Kurnianto mengatakan pihaknya (para pendiri) beruntung dengan bermodal gagasan, dapat bertemu dengan pemilik tanah di kawasan Dago, tepatnya Jl.Cikalapa II no.4 Tanggulang Dago Pojok Bandung, yang satu visi untuk mewujudkan Sekolah Alam Bandung seperti sekarang ini.

“Sekolah alam itu dibuat sebagai antitesisi terhadap pendidikan yang ada waktu itu yang hanya fokus pada aspek kognitif seperti nilai-nilai atau angka-angka, melupakan aspek potensi manusia itu sendiri, seperti mental dan kepribadian,” ungkap Eko kepada bisnis.

Segala hal yang ada di sekolah alam tersebut tidak lepas dari upaya untuk menggali potensi dan membentuk mental manusia. Apa yang diterapkan di sekolah ini punya kandungan filosofis, seperti dalam urusan pakaian yang dibebaskan tak berseragam dan terkait penataan bangunan.

“Menjadi sorotan sekolah alam adalah kreativis dan kekritisan yang dimatikan pendidikan kita sekarang dengan penataan bangunan dengan ruang-ruang kelas tersekat dinding-dinding tembok,” katanya.

Soal pakaian, Eko menjelaskan pakaian bukan elemen penting dalam pendidikan itu sendiri, tapi cukup berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Pihaknya ingin menanamkan belajar itu dimana saja, kapan saja, tidak harus selalu di belakang meja dan berseragam. Selain memang, menurutnya, murid-murid sekolah alam setiap harinya selalu berkotor-kotoran.

“Menanamkan juga jiwa sosial, dengan pakaian bagus tidak usah sombong, tidak usah minder juga karena pakaian. Mendobrak kondisi awal seragam itu hanya ada di militer dan pabrik. Anak bisa mempersoalkan banyak hal. Sekolah itu bukan pabrik atau militer, segala hal bisa dipertanyakan,” paparnya.

Untuk urusan kurikulum, Kepala Sekolah Alam Bandung Aryo Budi Hutomo mengatakan sekolah alam mengadopsi kurikulum sekolah formal untuk beberapa pelajaran khususnya yang di-ujian-nasional-kan dan selebihnya menggunakan kurikulum tersendiri. Walau demikian pihaknya tetap berkordinasi dengan dinas terkait dan berhubungan dengan para kepala sekolah di Bandung.

SAB saat ini memiliki guru sebanyak kurang lebih 30 orang. Jumlah murid SD saat ini ada 150 anak dan SMP 30 anak. Masing-masing tingkatan (angkatan) SD dan SMP hanya ada satu kelas yang jumlah muridnya dibatasi 24 anak dan diisi dua guru, pria dan wanita, dan guru pendamping untuk anak berkebutuhan khusus.

Untuk SD, sekolah ini telah meluluskan enam angkatan sejak didirikannya dan dua angkatan untuk SMP. Secara nilai, aku Aryo, nilainya murid-muridnya memang beragam, ada yang memang baik dan ada juga yang kurang. Namun hal itu, sebagaimana diterapkan sekolahnya, tidak terlalu dihiraukan karena bukan satu-satunya parameter penilaian.

Murid-murid setiap semesternya menerima raport yang di dalamnya ada nilai secara kuantitatif seperti sekolah formal pada umumnya berupa angka-angka, dan ada penilaian secara kualitatif dan naratif dari guru yang selama setahun mendidik di kelasnya.

“Guru menjadi elemen sangat penting dalam pembelajaran sekolah alam ini. Selain menjadi sumber ilmu, dia menjadi teladan dan pembimbing murid untuk menemukan potensi murid, yang setiap anaknya tentu berbeda,” terang Aryo.

Peran serta orang tua dalam pendidikan alternatif seperti sekolah alam tidak dapat dilepaskan mengingat metode pembelajaran yang diterapkan perlu dipahami oleh para orang tua murid. Aryo begitu pula Eko memosisikan orang tua sebagai mitra dalam pendidikan. Mereka terlibat dalam bentuk Dewan Kelas yang secara berkala melakukan diskusi bersama guru dan pihak sekolah tentang perkembangan anak dan pendidikan sekolah alam itu sendiri.

Roosphira Miswary, salah satu orang tua murid yang anaknya duduk di kelas dua dan tiga, mengatakan konsep pendidikan seperti yang ditawarkan oleh sekolah alam inilah yang dicarinya. Pada prinsipnya dia kurang bersepakat dengan sistem pendidikan nasional saat ini dengan hanya berfokus pada nilai yang terepresentasikan dengan adanya ujian nasional.

“Mungkin saya orang tua aneh yang menyekolahkan anaknya ke sekolah aneh,” ujarnya yang diiringi tawa kepada bisnis.

Ibu yang juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bidang pendidikan ini menyesalkan pendidikan formal selama ini yang membuat anak tidak kreatif atau tak bahagia untuk bersekolah. Menumpuknya pelajaran dengan metode pembelajaran yang mengedepankan hapalan menurutnya sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Selain itu, dia pun tidak yakin dengan sekolah formal dapat membentuk karakter atau mental anaknya untuk siap menghadapi tantangan di masa depan.

“Memang sekolah itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana masa depan anak. Ada faktor lingkungan dan faktor keluarga itu sendiri yang sangat menentukan. Tapi sebagai orang tua, saya pastinya mencari sekolah yang terbaik yang bisa turut memfasilitasi itu ,” paparnya.

Eko mengutarakan sekolahnya mungkin masih dapat ditandingi sekolah lain dalam urusan mencetak murid yang kritis atau kreatif. Namun ada hal lain menurutnya yang secara absolut tidak dapat ditandingi sekolah manapun, khususnya sekolah formal di Bandung. “Kelebihan secara absolut di sekolah alam yaitu lebih bahagia dan lebih sehat. Tidak ada dinding, oksigen melimpah luah. Itu absolut,” tegasnya. (k4)


25-Jan-2016 by admin


Unduh Formulir Lamaran Di Sini Email 1 : hrd.sekolahalambandung@gm... Selanjutnya



Sekolah Alam Bandung mulai tahun ajaran 2016 - 2017akan membuka jenj... Selanjutnya



Sekolah Alam Bandungby Yuria Pratiwhi Cleopatra on Saturday, 28 Nov... Selanjutnya